Nasib Perawat Indonesia
Beberapa hari surfing di internet dengan keyword nasib perawat Indonesia mendapatkan hasil seperti di bawah ini, sebelumnya mohon maaf bila ada yang tidak berkenan dengan artikel ini …
Persaingan dalam area Profesionalisme
Mudah-mudahan anda yang membaca tulisan ini tidak tersinggung dan mendiskreditkan profesi perawat. Apa yang saya ungkapkan dibawah ini hanyalah suatu bentuk kesedihan untuk masa depan profesi perawat khususnya perawat profesional (S1 keperawatan).
sejak issue yang muncul tentang pembentukan S1 keperawatan sampai saat ini dimana jumlah lulusan S1 keperawatan yang mencapai jumlah cukup banyak di seluruh propinsi dari sabang sampai merauke, belum menunjukkan adanya perubahan yang signifikan terhadap kesejahteraan perawat.
suatu ketika saya ingin mengadakan penelitian kecil-kecilan di sebuah RS di Makassar, saat itu saya berdiri dihalaman RS tersebut dan mencoba memfokuskan melihat area parkir. di situ saya lihat ada beberapa area parkir yang masih kosong sementara ditempat lain kendaraan roda dua dan roda empat bercampur bagaikan sayur dipasar. aku jadi heran, kenapa lahan yang kosong itu tidak di gunakan sebagai tempat parkir?? saya mencoba bertanya kepada petugas parkir, dan menurutnya itu adalah lahan parkir khusus DOKTER. Saya jadi heran.. silahkan anda menganalisa sendiri.
kemudian saya melihat beberapa orang perawat berpakaian putih2 berlarian turun dari mikrolet menuju ke RS, saat itu hujan turun sangat lebat sehingga pakaian putih2 yang menjadi ciri khas perawat yang mereka pakai menjadi basah dan agak kotor. terlihat dari raut wajah mereka, nampaknya mereka sudah lama bekerja sebagai perawat, aku jadi bertanya, kemana gaji mereka? koq g beli motor saja? atau beli mobil? atau mereka g mampu beli?
selang beberapa menit kemudian, sebuah mobil mewah kalau tidak salah mereknya KIA memasuki pelataran RS dan memakirkan mobilnya di area parkir yang kosong tadi dan terlindungi oleh atap seng. kemudian dengan santai si empunya mobil keluar dengan santai tanpa takut terkena air hujan. dari raut wajahnya nampaknya masih sangat muda. kemungkinan besar dia baru sekitar 1-2 tahun bekerja sebagai seorang dokter. Ini jadi tanda tanya besar bagi saya.
PERAWAT= angkutan umum.
DOKTER = mobil pribadi.
tentunya anda berfikir bahwa hal itu adalah suatu kewajaran karena gaji dokter lebih besar dibandingkan perawat. ya itu memang benar.
sekarang coba kita lihat perbandingan waktu dinas perawat-dokter:
Perawat –> Dinas Pagi:8 jam
Dinas Sore:8 jam
Dinas Malam: 8 jam
jadi total jam kerja perawat adalah 24 jam.
Dokter –> dari jam. 08.00-13.00
mungkin itu belum bisa memberikan gambaran yang jelas. nah sekarang coba kita lihat gambaran tentang tanggung jawab/tindakan di RS
Perawat: 90%
Dokter : 10%
saya coba memberikan beberapa gambaran pekerjaan perawat yang seharusnya dilakukan oleh dokter:
1. Pasang Infus
2. Pasang Kateter
3. Injeksi
4. Skin Traksi
5. Pasang NGT
6. Oksigenasi
7. Hecting
dan masih banyak yang lainnya lagi…
Untuk tindakan medis tersebut, ada biaya yang dialokasikan dari pembayaran pasien. yang terjadi adalah entah di seluruh RS atau beberapa RS, yang menerima kompensasi tersebut adalah dokter yang nota benenya bukan dokter yang melakukan tindakan tersebut. ini jadi pertanyaan, konpensasi tersebut untuk perawat atau dokter?? (kasihan banget perawat). mau mengadu kemana?? Direktur RS nya siapa?? DOKTER, yang duduk di wakil rakyat?? di dominasi oleh DOKTER. perawat ga kebagian donk..
kalau dipikir2, memang perawat hari ini sangat mengenaskan, lebih buruk dari seekor keledai.Lebih parahnya lagi masih ada beberapa orang perawat yang menjilat di kaki dokter mengharapkan imbalan walau cuman sepeser. makanya perawat semakin di injak, di pelintir bahkan di ludahi oleh profesi lain karena kebodohannya. saya sendiri sebagai seorang perawat, malah malu jika di panggil perawat. karena perawat hari ini sudah menempati posisi teratas untuk citra terburuknya. Ada juga yang dengan bangganya karena telah memiliki gelar NERS merasa dirinya sudah hebat, mendiskriminasikan perawat D3. padahal intinya kita sama. sama2 perawat. di RS kita mempunyai nama panggilan yang sama yaitu PERAWAT.
Sekarang saatnya kita semua saling merangkul tanpa memandang SPK, D3, D4, S1, S2, S3, bahkan profesor sekalipun, kita semua sama. PERAWAT.
saat ini kita sama2 mendoakan agar UU keperawatan dapat segera di syahkan agar terjadi perubahan yang kita harapkan sesuai dengan isi UU. 12 mei yang lalu mari kita jadikan sebagai langkah awal perjuangan kita yang hampir ambruk beberapa saat yang lalu. dan kita perlu menyadari bahwa perjuangan tidak akan pernah berhasil tanpa adanya PERSATUAN…..!!!!!!!!
komentar admin
“dines malam 10 jam dong, sementara perawatnya diruangan berjibaku dengan pasien dokternya ngorok di rumah, malah ada sebagian yang marah-marah bila dibangunkan karena pasiennya mengeluh kesakitan misalnya padahal telpnya udah pakai bahasa sehalus mungkin sampai nyembah-nyembah…!!. PERATURAN perawat dinas malam tidak boleh tidur, padahal seharian udah ngurusin rumah, momong anak, cari kerjaan sampingan karena gaji dari RS gak cukup buat beli susu…
FORUM PEDULI PROFESI PERAWAT INDONESIA
http://fp3i-kompak.blogspot.com/
……..
Sebagai bahan perenungan kita, berikut dibawah ini adalah beberapa pernyataan bebas yang telah kami catat dalam diskusi kecil kami yang mungkin tidak ada salahnya apabila kita simak bersama meskipun tanpa mengurangi rasa hormat kami, sengaja semuanya kami tulis dengan bahasa yang lugas apa adanya agar tidak mengurangi makna dari pengkajian kita.
1. “Perawat adalah pembantu dokter, tak akan mungkin bisa bermitra.”
2. “Kalau ingin hidup lebih layak secara ekonomi janganlah jadi perawat, lebih baik jadi bidan karena perawat tidak memiliki lahan praktek mandiri.”
3. “Banyak perawat yang mengaku bidan supaya bisa praktek untuk mencari penghidupan yang lebih layak.”
4. “Banyak perawat yang mengaku dokter untuk mendapatkan penghasilan dari praktek pengobatan.”
5. “Perawat membuka praktek pengobatan layaknya dokter karena tidak puas terhadap penghargaan yang diberikan profesi kepadanya.”
6. “Perawat yang hidup layak secara ekonomi pada saat ini kebanyakan tidak hidup murni dari profesi keperawatan tetapi justru dari mengambil kewenangan profesi lain.”
7. “Perawat yang melaksanakan praktek pengobatan sebenarnya telah menghancurkan profesi keperawatan itu sendiri.”
8. “Jika ingin mendapatkan penghasilan lebih dari profesi keperawatan pada saat ini sebenarnya perawat konseptor lebih menjanjikan daripada perawat pelaksana di lapangan.”
9. “Profesi perawat saat ini tidak dihargai secara layak sesuai dengan apa yang telah dilakukannya.”
10. “Mengapa perawat yang memberikan pengobatan di rumah disalahkan, tetapi perawat yang memberikan pengobatan di Puskesmas karena tidak ada dokter diperbolehkan, inikah keadilan.”
11. “Mengapa perawat tidak mendapatkan presentasi pendelegasian wewenang dari jasa yang didapatkan dokter padahal banyak sekali tugas dokter yang didelegasikan kepada perawat di rumah sakit, inikah keadilan.”
12. Mengapa perawat harus ditangkap oleh polisi karena memberikan pengobatan dasar kepada pasien padahal masih banyak praktek perdukunan ilegal di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.”
13. “Mengapa perawat dilarang membantu proses persalinan sementara dukun / paraji dapat membantu persalinan secara leluasa tanpa tesentuh oleh proses hukum.”
14. “Mengapa perawat tidak boleh melakukan tindakan sirkumsisi/ khitanan sementara bengkong / tukang khitan dapat membuka praktek tanpa tersentuh hokum.”
15. “Mengapa banyak perawat mahir dibutuhkan untuk melakukan tindakan circumsisi dalam kegiatan bakti sosial, tetapi tidak boleh melakukan tindakan mandiri hanya untuk sekedar meningkatkan kualitas hidupnya secara ekonomi di tengah masyarakat.”
16. “Andai saja masyarakat Indonesia semuanya kaya tidak mungkin mereka mau berobat ke mantra.”
17. “Andai saja dokter mau lebih dekat dengan masyarakat, mau turun di malam hari ketika di panggil, mau pergi jauh untuk memeriksa pasien dengan hanya bayaran terima kasih, saya siap mengundurkan diri jadi mantri.”
18. “Andai saja dokter mau betah hidup di kampung, berteman dengan masyarakat kecil, saya kira tidak perlu ada mantri, karena pasti mantri tidak laku.”
19. “Bedanya mantri dengan dokter adalah nasib. Kalau dokter kebanyakan berasal dari orang berada, kalau mantri kebanyakan dari orang menengah kebawah. Kenyataannya banyak sekali dokter yang tidak lebih baik dari mantri.”
20. “Kalau dokter macam-macam mari kita tunjukan bahwa mereka tidak akan bisa menangani pasien sendiri, suruh mereka bangun malam hari untuk menyuntikan obat, suruh mereka nginfus sendiri. Pekerjaan kita kan hanya merawat pasien.”
21. “Bidan itu adalah perawat yang lupa kulit, padahal sejarah mereka adalah perawat, tidak akan ada bidan kalau tidak ada perawat.”
22. “Jangan pernah berbicara terlalu lantang tentang pelaksanaan wewenang profesi secara murni dan konsekuen terhadap perawat yang mengobati pasien selama masih banyak dokter yang memberikan obat langsung tanpa melalui apotek, selama apotek memberikan anti biotic dan obat keras lainnya tanpa resep dokter, selama bidan masih memberikan pengobatan di luar ibu dan anak atau di luar masalah kebidanan, selama masih banyak dukun, paraji dan praktek pengobatan alternative lainya yang masuk ke ranah medis. Yang harus kita sadari adalah biarlah masyarakat memilih dan melihat siapakah yang lebih pantas mereka berikan kepercayaan untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara alami, biarlah waktu yang menjawab dan menegakkan benang merah profesi yang seharusnya tegak. Sadarkanlah masyarakat dengan mendewasakan mereka, memanusiakan mereka dan menjadikan mereka sebagai bagaian terpenting dari pelayanan semua profesi kesehatan. Masyarakat adalah raja dan kita adalah pelayannya. “
23. “Perawat yang tidak pernah menangani secara langsung pasien di lapangan bisanya hanya bisa menyalahkan, padahal kalau mereka disuruh turun belum tentu mereka bisa.”
24. “Perawat yang terlalu idealis dan merasa paling murni menjaga profesi adalah perawat yang sombong yang tidak pernah merasakan pahitnya hidup susah.”
25. “Perawat sarjana yang paling lantang mengatakan bahwa kita perawat harus menjadi mitra dokter jangan mau disuruh atau di intervensi oleh dokter adalah perawat yang belum pernah merasakan bagaimana pahitnya ketidakberdayaan dan kelemahan hirarki dalam sebuah sistem.”
26. “Perawat itu jumlahnya terbanyak tapi intelektualnya terendah sehingga mudah dikotak-kotak dan di adu domba.”
27. “Yang merusak persatuan perawat itu bukannya dokter atau profesi lain, tapi perawat sendiri yang senang makan tulang kawan sendiri.”
28. “Pengurus PPNI itu hanya bisa berteori, prakteknya sebenarnya nol besar”
29. “PPNI itu sebenarnya kesalahan nama, seharusnya IPI ( Ikatan Perawat Indonesia ) biar anggotadan organisasinya semakmur IDI, IBI dan IPAI.”
30. “Selama DIII keperawatan belum dihapuskan, jangan pernah berharap bisa bermitra dengan dokter, karena perbedaan derajat jenjang pendidikannya sudah sangat jelas tidak mungkin disejajarkan.”
31. “Masalah perawat seharusnya urusan komite perawatan, prakteknya malah komite medis yang paling banyak ngatur.”
32. “Senjata pamungkas dokter yang di complain pasien adalah menjadikan perawat sebagai kambing hitam.”
33. “Saya tidak ingin mengobati pasien, tetapi saya juga tidak bisa menolak pasien yang meminta bantuan saya karena tugas perawat adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.”
34. “Tidak kurang perawat cendekia dan pantas memimpin kita para perawat, tetapi aneh masih ada kepala bidang perawatan yang profesinya dokter.”
35. “Inilah record penghargaan bagi pengabdian seorang perawat, Gaji Rp.150.000 per bulan bagi sukarelawan yang bekerja di Puskesmas.”
36. “Perbandingan pendapatan perawat dengan dokter di rumah sakit adalah seperti bumi dengan langit.”
37. “Dalam 24 jam kalau dipresentasikan kebersamaan pasien dengan perawat dibanding dengan dokter adalah 24 : 2, jadi sebenarnya siapa yang lebih tahu masalah pasien ?.”
38. “Dokumentasi perawatan yang lengkap adalah penyelamat utama bagi dokter yang terdesak secara hukum.”
39. “Perawat itu ingin di akui sebagai profesi yang utuh, tetapi sikapnya kebanyakan tidak professional.”
40. “Mudah sekali membedakan perawat dengan dokter dari penampilannya, kalau dokter itu rapih bersih dan berwibawa, kalau perawat itu kumal,lesu dan lusuh.
41. Trend lucu pendapatan perawat dan dokter di akhir tahun adalah kalau perawat menerima SHU Koperasi selalu jauh lebih besar di banding dokter.
Banyak sekali anekdot yang lucu, menohok terkadang membuat kuping siapapun menjadi merah. Tapi semua itu adalah fakta yang ada di sekitar kita. Kita tidak harus menaggapi semuanya secara buta, tetapi dari hal tersebutlah telah tumbuh kesadaran diantara kami sebagai insan yang telah mengatas namakan dirinya sebagai seorang perawat untuk mulai bergerak menunjukan eksistensi professi keperawatan yang memiliki integritas dalam bentuk nyata sebuah kepedulian terhadap profesi. Kami sadar bahwa saling menuduh atau menyalahkan bukanlah sebuah solusi yang bijak dalam menyelesaikan masalah. Sehingga lahirlah sebuah keyakinan bahwa yang dapat mengangkat martabat professi keperawatan bukanlah profesi lain, kita sendirilah yang bertanggung jawab untuk semua itu, karena kitalah yang telah merasakan pahit manisnya hidup menjadi seorang perawat……
Komentar Admin
“ada yang mau nambahin gak…..???”
Perawat tulang punggung yang terlupakan
………..
Sebagai pegawai negeri golongan II, gaji perawat tidak lebih dari Rp 800.000 per bulan, sedangkan golongan III yang dicapai setelah bekerja puluhan tahun hanya sedikit di atas Rp 1 juta.
“Perawat di Indonesia masih belum diperhatikan. Masih disamakan dengan pegawai negeri yang lain. Beban dan risiko kerja belum diperhitungkan,” kata Sudjiasih.
“Perawat berisiko tertular penyakit dan terpapar zat-zat kimia. Karenanya kesehatan perawat perlu ditunjang dengan pemeriksaan kesehatan berkala serta tunjangan pemeliharaan kesehatan, misalnya uang makan atau penambah beli susu,” kata Eti menambahkan.
Namun, itu semua masih di angan-angan. Jangankan uang beli susu, untuk minum pun perawat harus patungan menyewa dispenser dan membeli air dalam kemasan. Adapun untuk kesehatan, mereka hanya mengantongi kartu Askes.
Kesulitan ekonomi membuat sejumlah perawat bekerja sampingan di rumah sakit swasta sehingga tinggal sisa tenaga saat bekerja di RSCM. Ada pula perawat yang memilih membolos sampai berbulan-bulan karena gaji tak sebanding dengan kebutuhan rumah tangga dan transpor ke tempat kerja.
Hal ini membebani rekan kerja lain. Namun, tak ada yang bisa dilakukan untuk memberi sanksi mengingat status sebagai pegawai negeri, tutur Tukinem yang menjabat sebagai Kepala Bidang Perawatan RSCM.
Tukinem berharap seleksi perawat tidak disamakan dengan pegawai negeri biasa. Perlu tes psikologi yang terkait dengan motivasi, dedikasi, selain keterampilan dan pengetahuan sebagai perawat.
MENJADI perawat tak seindah bayangan semula. Selain sarana kerja dan kesejahteraan terbatas, perawat sering menjadi bumper. Dimarahi pasien dan keluarga jika dokter tak segera datang, dinilai kurang perhatian padahal beban kerja tinggi akibat perbandingan tak seimbang antara jumlah perawat dan pasien, dibebani tugas ekstra seperti administrasi keuangan JPK-Gakin, menertibkan penunggu pasien dan kena tegur manajemen jika ada pasien kabur tak membayar.
Komentar Admin
” sabar bu….kezaliman pasti hancur..amiiiinn.”
Perawat ditangkap warga demo polsekta
LUBUK BAJA - Ratusan warga Kampung Dalam, Baloi Danau mendatangi Mapolsek Lubuk Baja, Senin (27/10). Warga mendesak Kapolsekta Lubuk Baja AKP Yos Guntur membebaskan Salmia, perawat yang ditangkap karena tuduhan tidak memiliki izin praktek.
Para warga yang terdiri dari kaum ibu, anak-anak bahkan bapak-bapak merasa kehilangan ‘dewi penolong’ jika Salmia ditahan. Yani, warga yang ikut demo, menyampaikan rasa keberatannya jika Salmia ditahan polisi. Alasannya, selama ini Salmia telah begitu banyak menolong warga. Disebutkan, Salmia tidak materialistis dan murni ingin menolong masyarakat kurang mampu.
Dikatakan, meskipun warga tidak memiliki uang, tetap dilayani secara baik. “Pokoknya, banyak sekali jasa yang telah diberikan oleh Ibu Salmia terhadap warga Kampung Dalam,” ujar Yani saat melakukan demo, Senin (27/10).
Menurut Yani, selama perawat tersebut praktek di kampung itu, belum pernah terjadi masalah dengan warga. Malah sebaliknya, perawat tersebut sangat membantu warga saat berobat atau melahirkan.
Andi, warga lainnya, juga menginginkan Salmia dibebaskan supaya masyarakat bisa terbantu. Andi mengisahkan ketika isterinya melahirkan, cukup membayar biaya bersalin sebesar Rp600 ribu. “Itupun dibayar dengan cara mencicil. Padahal, rumah sakit mana mau membantu warga miskin seperti kami,” katanya.
Andi menegaskan, jika Salmia ditangkap, tidak ada lagi petugas kesehatan yang mau membantu warga ketika sakit. Ia meminta Yos Guntur untuk bertindak lebih bijaksana. “Jangan hanya karena tidak mempunyai izin praktek, lantas ditangkap. Padahal warga sangat membutuhkan perawat seperti Ibu Salmia untuk membantu kesehatan warga kami,” ujar Andi.
Kapolsek Lubuk Baja AKP Yos Guntur mengatakan walaupun Salmia masih dibutukan oleh warga, secara aturan atau hukum, tetap tidak memiliki legalitas. Ia mengaku tidak melakukan penahanan terhadap Salmia, tetapi hanya diamankan karena takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
“Masyarakat memprotes karena belum terjadi apa-apa. Tetapi polisi mengamankan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Karena kalau sudah terjadi, warga pun pasti akan mendukung tindakan ini,” katanya.
Menurut Yos, perawat tersebut dilaporkan Ketua RW 04 Seto Prasetyo karena dicurigai tidak memiliki izin. Dengan demikian, Salmia dinilai telah melanggar UU NO 2 tahun 1992 tentang kesehatan. Ia berjanji tidak melakukan penahanan, tetapi Salmia tidak boleh lagi membuka praktek di tempat tersebut.
Dr Danti Lestari, Kepala Puskesmas Lubuk Baja, mengatakan pihaknya sudah sering kali mengingatkan suster tersebut untuk tidak berpraktek. Alasannya, seorang perawat tidak diperbolehkan membuka praktek. “Kalaupun mau praktek harus sekolah lagi di bidang kebidanan. Itu pun harus atas izin dari Dinas Kesehatan,” katanya.
Komentar Admin
“….Kalaupun mau praktek harus sekolah lagi di bidang kebidanan….maksudnya praktek bidan itu boleh nyuntik, ngasih antibiotik juga, pa bedanya bidan sama dokter klo gitu (kok dokter-dokter gak da yang protes ya kalo praktek mereka ditelikung bidan, tapi kalo perawat yang praktek langsung kebakaran jenggot)”
Jual obat keras perawat ditangkap Polisi
EHS (28) hanyalah perawat di Puskesmas Paron di Kabupaten Ngawi. Ia juga tidak punya surat izin praktik (SIP) dan surat izin praktik perawat. Akan tetapi, EHS sering kali mengobati pasien. Bukan hanya itu, ia malah diduga kuat menjual obat-obat yang termasuk keras.
Atas perbuatannya itu, EHS ditangkap dan saat ini ditahan di Kepolisian Resor Ngawi. Kepada wartawan, Selasa (20/1), EHS mengatakan telah mengobati pasien dan menjual obat-obat itu kepada pasien dalam lima tahun terakhir. Dia membuka praktiknya di rumahnya di Desa Jeblogan, Kecamatan Paron, Ngawi.
Dia mengaku, hal itu dilakukannya karena telah mendapatkan izin lisan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi. Selain itu, perawat-perawat lainnya yang tidak memiliki SIP ataupun SIPP pun melakukan hal itu.
“Hanya karena saya yang apes, saya ditangkap polisi,” ujarnya yang mengetahui kalau apa yang dilakukannya sebetulnya melanggar aturan.
EHS juga mengaku, dia terpaksa berperan seperti dokter di desanya karena jumlah dokter di wilayahnya sangat terbatas. “Jadi, sebetulnya niat saya baik, mengobati mereka yang sakit,” tambahnya.
Namun, alasan EHS ini tidak bisa diterima oleh polisi. Menurut Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Ngawi Ajun Komisaris Sujarwanto, mengobati orang sakit harus ada izinnya terlebih dulu. Izin itu sebagai dasar kalau seseorang memiliki keahlian mengobati orang.
“Sekarang kalau ternyata ada salah satu pasiennya yang salah diberi obat lalu meninggal, itu kan bisa menjadi masalah besar. Makanya kami menahan EHS sebelum itu terjadi,” ujarnya.
Di rumah EHS, polisi menyita ratusan obat keras berlogo ‘K’ merah, di antaranya Duradryl, Gludepatic 500, Diltiazem, dan Microtina. Obat-obat ini dibelinya dari apotek yang pemiliknya sudah kenal kalau EHS adalah perawat di puskesmas.
EHS dinilai polisi telah melanggar pasal 81 dan pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Dengan begitu, EHS diancam tujuh tahun penjara.
Sujarwanto menambahkan, selama tahun 2008 sampai awal tahun 2009 ini, Polres Ngawi telah menahan sembilan orang yang melakukan kesalahan seperti yang dilakukan EHS.
Komentar Admin
” sabar mas…maklum jaman lagi susah, mungkin nanti mas bisa sekolah kebidanan kaya usulnya dr Danti lestari diatas, supaya bisa buka praktek..?????!!!!!”

ckckckck…sekolah mahal2 hanya untuk jadi hamba??
kami hidup untuk melayani bukan untuk diperhambakan….
mari kita ubah pola pikir dan pandangan orang tentang perawat_^
khiefli
March 10,2009
Memang sudah saatnya kita harus menguras pikiran tuk mencari jalan keluar dari semua permasalahan yang kita hadapi di dunia keperawatan dan selama kita mengabdi sebagai perawat.
Hayo para perawat indonesia, mari kita bangkit untuk sama-sama merubah diri dari keterpurukan ini. jangan kita mau diperbudak oleh dokter. justru itu mari kita tunjukkan bahwa kita mampu untuk berbuat lebih baik dari pada dokter asal kita diberi wewenang yang jelas.
Aku pribadi sangat kecewa dengan semua statemen2 dari mekes yang terlalu merendahkan perawat dengan menagatakan “perawat walaupun pendidikannya sudah S1 tetap pembantu dokter”. kenapa menkes sebagai orang nomor satu di dunia kesehatan tidak bisa mengayomi dan mengakui profesi perawat?. dari itu apakah pantas dia terpilih lagi sebagai menkes? mari kita berfikir.!!!
salam kenal….
membaca tulisan teman-teman, rasanya sedih, kecewa,menyesal, bersyukur dan entah perasaan apalagi yang sedang meneyelimuti saya.
kejadian seperti yang dituliskan teman-teman memang pas dan juga terjadi pada rumah sakit saya.
yang jadi pertanyaan kita semua adalah…..”perawat profesional itu kayak apa?”
sedangkan teman-teman yang sudah S1 malah meninggalkan tindakan mandiri keperawatan, mereka justeru lebih suka melakukan tindakan kolaburatif (nyuntik, nginfus dll), dengan adanya perilaku yang demikian justeru dokter akan senang melimpahkan tugas itu pada perawat.
pada suatu hari saya bertanya ke salah satu dokter spesialis, “apa persepsinya tentang perawat profesional?” dia menjawab “ya yang bisa melayani dokter…”coba mereka yang tahu tenntang perkembangan pendidikan keperawatan saja bilang seperti itu, bagaimana dengan orang lain ?
jadi menurut saya akan lebih baik jika kita “menyadarkan” tim medis terlebih dahulu sebagai mitra kerja kita.
Salahsatu solusinya adalah kerja di luar negeri. Biar jadi bawahan dokter, tapi penghasilan lebih dari dokter di indonesia.
saya seorang masyarakat awam ..
membaca tentang hal ini .. merupakan keanehan bagi sayaa…
memang persepsi masyarakat tentang perawat adalah pembantu dokter ..
memang kalian para perawat mengingin kan menjadi apa ?
apa ingin setara seperti dokter ?
memberi pengobatan kepada pasien ?
lalu untuk apa ada dokter?
tolong penjelasannya … sayah masyarakat awam tidak mengerti !
saya setuju dgn pernyataan semuanya….saya adalah salah satu diantara perawat yg punya pengalaman bekerja di Rs Borromeus Bandung….hati dan pikiran saya waktu itu sangat memberontak,hampir semua perawat di sana hanya manggut2 aja dgn segala keputusan dan kebijakan rumah sakit,dgn alasan pasien adalah yg utama.tapi nggak ada pilihan lain,kalau kita kritik sedikit,maka dipecat menjadi taruhanya,dokter begitu dipuja bagaikan dewa yg tahu segalanya,antara sesama perawat saling menyikut dan banyak yg cari muka.dgn segala perjuangan akhirnya saya berhasil bekerja di Belanda…
menurut saya PPNI itu nggak ada artinya dan hanya teori aja,kalaupun undang2 keperawatan disetujui,apakan undang2 itu bisa membantu kesejahteraan perawat.bahkan sekarang malah ada PPNI cabang Kuwait dan Belanda,tapi sama aja…teori doang.
yg perlu kita lakukan sekarang ini kita harus bersatu,mari kita DEMO serentak diseluruh Indonesia supaya Gaji perawat naik dan perwat lebih diperhatikan…
yap..saya setuju dengan okta. kita harus bersatu supaya pemerintah tidak menganggap kita warga kelas 2 (di bawah dokter). sudah saatnya kita demo untuk meminta supaya nasib kita diperhatikan. sudah saatnya pelayanan kita dihargai. saya seorang perawat icu,yang kebanyakan mengambil alih tugas dan tanggung jawab dokter. jd kita sudah terlalu permisif selama ini. saatnya sekarang berjuang untuk masa depan dan profesi kita. kita dituntut untuk memasang ’smiling face’ setiap saat. bagaimana mau smile jika makan juga terancam??? tetapi sembari berjuang, mari kita tetap melayani sebaik2nya dan berdoa semoga Tuhan memberkati perjuangan kita. semangat!!!
Memangnya perawat itu sapi perahan bos, yang bisa disuruh-suruh tanpadi kasih sesuatu. tapi Tuhan maha tahu dan Maha Penyayang kepada umat Perawat yang baik hati dan sabar, suka menabung, dan tidak sombong. percayalah itu kawan
cuma di indonesia tenaga perawat kurang di hargai.karena asosiasinya yang tidak kuat bikin gaji rendah tidak sejajar di mata international.
makanya …………go international……………kalau gak pengen ngeluh..
salam kenal
denger nasib perawat kayak gitu saya sebagai clon perwat merasa agak ragu apakah saya bisa atau tidak krn sepertinya penuh dengan kehidupan yg tak layak sekali…
tp merupakan suatu motivasi juga ke depan untuk menunujukan bahwa asya bisa meningkatkan derajat kehidupan perawat seperti proklamator gto duehhhh
memang jik jadi perawat niat untuk materi saja tidak bakalan bisa kalau kenyataan seperti itu.kita hanay didasari kemanusiaan,kasihan sebagai saudara,manusia,dan makhluk tuhan yg paling sempurna
caayoooo nurseeeee
SAya ikut prihatin juga di Dunia Keperawatan… Sebagai seorang mahasisawa Keperawatan saya akan terus maju untuk memajukan keperawatan di Indonesia….
Buat yang punya blog ini wah apa yang anda sudah tulis di sini makin menambah wawasan saya. Memang demikianlah adanya yang terjadi di negeri ini. Saya punya teman-teman yang kuliah di kedokteran dulu sekarang mereka tidak mau kembali ke kampung halamannya buat meningkatkan memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada rakyat. Mereka malah umumnya tinggal di kota-kota besar padahal dulu mereka kuliah juga sebagian disubsidi oleh pemerintah yang notabene uang rakyat. Akibatnya rakyat banyak yang memilih berobat ke perawat, mantri, dan bidan. Herannya di kota besar pun mereka tidak membuka praktek malah cuma jadi dosen :(.
Kalau soal nasib perawat saya kira tidak usah dipersoalkan. Memang kalau kerja di rumah sakit ya begitulah adanya. Perawat laksana budak. Kasarnya kerja maksi hasil mini :). Akan tetapi saya punya kenalan perawat cuma lulusan SPK dulu sekarang bisa hidup sangat makmur. Penyebabnya adalah dia membuka praktek sendiri seperti layaknya dokter dan bahkan memiliki “rumah sakit” sendiri untuk opname. Mulai dari diagnose, memberi obat, treatment, administrasi, dll dia sendiri yang melakukan semuanya. Bahkan memasang infus sering dilakukan pembantu rumah tangganya sendiri. Hebat kan? Dalam 1 bulan penghasilannya bisa sama dengan dokter ahli. Punya rumah dan mobil mewah. Saya tidak tahu apakah itu legal atau tidak. Bahkan dia mampu melakukan operasi bedah kecil-kecilan. Jadi saran saya buat para perawat mending praktek mandiri saja seperti layaknya dokter atau dokter ahli daripada kerja di RS. Toh takkan ada yang mempersoalkan karena para dokter juga sibuk sendiri dengan urusannya. Lagipula rakyat saat ini sedang butuh pelayanan kesehatan yang murah dan bagus. Rakyat juga tidak peduli dengan status perawat atau bidan. Bagi mereka perawat = dokter umum dan bidan = dokter kandungan = dokter umum. Yang penting sembuh dan murahlah. kucingmicel@gmail.com
Kalau antar perawat sendiri saya lihat memang saling sikut. Contohnya di tempat saya SL dengan pak EK sama-sama perawat gak pernah akur. Begitu pula pak EK dengan bu DN pernah clash. Gara-gara pak EK pernah membantu proses persalinan dan pasiennya meninggal. Bu DN menduga ada malpraktek. Begitu pula pak EK dengan bu RM juga tidak akur dan saling menghancurkan tarif :).
Terus terang saya termasuk orang yang gak suka dokter. Soalnya saya anggap dokter terlalu sering mengintimidasi saya. Saya pernah opname di RS dan dokternya mengintimidasi saya terus yang justru membuat saya merasa tidak nyaman dan kapok. Saya jengkel banget. Eh, bayar mahal cuma dapat intimidasi! Banyak juga dokter yang suka menembak burung dengan meriam. Saya pernah punya penyakit sepele (infeksi telinga) namun dikasih obat sangat keras oleh dokter THT. Akhirnya semula saya hanya sakit telinga malah gak bisa bangun 1 minggu. Dari 3 macam obat yang diberikan akhirnya hanya 2 yang saya makan. Akhirnya juga saya gak mau ke dokter itu.
Ada juga dokter umum namanya pak SY yang suka banget paksain pasiennya beli suplemen. Padahal harga suplemennya sangat mahal dan manfaatnya sering tidak ada. Saya sudah membuktikannya sendiri. Kebetulan dia menjadi salah satu anggota sebuah MLM.
Anda-anda semua yang sedang kuliah di jurusan keperawatan atau menjadi perawat tidak perlu cemas dengan masa depan anda. Pangsa pasar anda sangat jelas dan tidak akan pernah ada resesi. Anda akan menjalani profesi yang sudah banyak diidam-idamkan semua orang di muka bumi ini
jadi bergembiralah! Perawat adalah profesi yang tak penah mengenal kegagalan. Beda banget dengan seperti saya di dunia bisnis yang sangat kental dengan dikotomi gagal-sukses. Buktinya di tempat saya jumlah perawat terus meningkat tajam padahal cuma sebuah desa kecil. 10 tahun lalu cuma ada 2 perawat dan 1 bidan namun kini sudah ada 8 perawat dan 2 bidan. Jumlah ini akan terus bertambah kayaknya karena saya lihat sekarang yang sedang kuliah di keperawatan sangat banyak! Jangan kuatir!
Sumaph miris banget aku mbacanya tulisan2 yg ada diatas itu…ckckckck…kl mau ngrubah mental perawat harus dari dasarnya mas..artinya,kalian para perawat harus bisa lebih ngargai para praktikan baik itu dari mahasiswa Akper ataupun dari mahasiswa S1.Jangan kejam2 kalian perawat jadi senior..kl kalian kejam2 asal nggetak2 aja,akhirnya gak ada perubahan pada perawat.nantinya mereka yg sekarang masih mahasiswa praktikan N nantinya udah jadi perawat beneran gak ngikutin gaya trend kalian perawat yg kejam2.mereka akan lebih berkualitas, sabar, dan lebih bisa menghargai baik itu kpd sesama perawat,mahasiswa praktik, maupun keluarga ataupun pasien. jadi perawat besok2 akan lebih profesional dalam bertutur kata maupun bersikap.key..thanks
kl menurut saya,kunci untuk memmbuat perawat sejahtera adalah dengan mencantumkan di dlm RUU perawat yang akan diundangkan harus ada pasal yang mencantumkan tunjangan profesi perawat spt uu guru,tunjangan resiko kerja,tunjangan resiko malpraktek dan lain2 sehingga nasib perawat akan terangkat dan tdk terpuruk spt skrg,sy tdk setuju dgn penyelesaian masalah dgn mengirim perawat bekerja diluar negeri,kl demikian apa bedanya kt dgn para tkw,tki dsb dan ini semakin merendahkan perawat sendiri,kalau RUU perawat tdk mencantumkan pasal itu percuma saja ada undang undang perawat.kt hrs ingat ada ratusan ribu perawat baik pns maupun swasta yg bekerja di indonesia,untuk apa kt hrs berfikir kl perawat adalah salah satu produk yg harus diekspor?alangkah nistanya profesi ini,lihat para guru!mereka sekarang hidup sejahtera karena ada tunjangan profesi yang besarnya satu kali gaji pokok dan tunjangan lain,pdhl perawat bs lebih dpt dr mereka nengingat tanggung jawab yang lbh besar,renungkanlah wahai teman2 perawat…..
Pertahankan profesi kalian ‘para perawat’, jasa kalian sangatlah mulia kok!!? Sehatkan masyarakat indonesia dengan kehadiran kalian…!!!
Ass, slm knl smua…
Sy adlh paramedik yg bkrj disebuah perusahaan, walaupun gj sy lmyn tp status km tdk jls, krn sistim kontrak yg diberlakukan, jd hbs kontrak nganggur n hrs payah2 cr kerj lg, apalagi paramedic yg kerja di perusahaan bnyak mlalui jasa outsourcing yg sngt mengabaikan kesejahteraan bg km, boro2 py askes..gayany ja krj di p’tambangan padahal klo dah hbs kontrak kepala pusing 1000keliling…bahkan dr pun tak pernah mengunjungi ke tmpt krj, cm duduk n tdr di office. Dr bisa krj dibe2rapa prusahaan.sdngkan paramedik ga bs..yg lbh gila lagi..paramedik hrs tnggal dilokasi kerja dlm rentang waktu yg lama..ga ada sinyal telp.sukur2 ada tv..klo ada kcelakaan..paramedik hrs siap tnp mengenal wkt.klo trjdi apa2 dgn pekerja..paramediklah yg disalahkan..dibilang ga becus..sungguh mengenaskan…apa ada yg peduli dengan nasib kami?
Pesan; kpd smua perawat, paramedik yg sudah trlnjur msk kedunia keperawatan jgn patah semangat, brusaha slalu, ALLAH SWT, sdh mengatur rezeki kt. OK. SUKSES SLALU Daaa….
yach,,
emanx susah sich jd prwt ini..
kerja udh berpuluh2 thn rmh msh kontrak..
sdg byr kuliah mhl2 cm jd pembantu dokter…
Gak Rela aza Perawat Yang Selalu Berdedikasi Untuk PasienNya Selalu DibandingKan Dengan Dokter Yg KerjaNya cm Bsa Kasih Perintah BAJAKAN…
walaupun gw Termasuk Dalam Keluarga Dokter tapi Pcr Gw Perawat tuch….
” HIDUP PERAWAT “
gue setuju banget jika gaji+tunjangan2 lain disamakan dgn guru….
biar kesejahteraan perawat sedikit lebih baik gt
yang sabar dan tetap semangat ya teman sejawatku…….
Sungguh menyedihkan nasib perawat indonesia,kalau keluhan perawat tidak lagi di dengar hal ini akan berakibat buruk pada pelayanan kesehatan…Bu Menkes baca tu “Nasib perawat Indonesia”!……anggota dewan yang terhormat, segera sah kan RUU keperawatan dan produk UU Kesehatan yang adil dan makmur,biar perawat bisa bekerja dengan tenang dan nyaman sehingga masyarakat juga bisa menikmati pelayanan kesehatan yang berkualitas.
makasih mas ya infonya…
so aq ndak akan menyekolahkan anaku jadi perawat
biar dak naik angkot….
ku sekolahkan aja jadi penjual mobil
biar setiap hari ganti mobil…
hehe gak nyambung yah…
numpang lewat mas
ikut prihatin atas nasip perawat indonesia………
setuju!!!… gede gaji buruh ama gaji perawat, harus nyogok sana-sini biar dpt kerja lagi, ternyata janji2 orang itu, hanya manis dibibir dan diangan saja,.. huhh
hal ini sudah menjadi polemik yang berkepanjangan, dan saya kira tak kan kunjung usai jika kita tidak mau merubah kebiasaan kita sehari-hari…..
ADA BEBERAPA ATURAN YANG SELALU MEREKA PERMASALAHKAN :
PERAWAT TIDAK BOLEH MENGERJAKAN PEKERJAAN TIM MEDIS LAIN
YANG HARUS KITA LAKUKAN :
JANGAN PERNAH MELAKUKAN PEKERJAAN TIM MEDIS LAIINNYA DALAM KONTEKS DAN KEADAAN APAPUN!!!! ( KONSISTEN DENGAN PEKERJAAN KITA, DAN JANGAN MAU DISURUH MENGERJAKAN PEKERJAAN DI LUAR JOB DESK KITA!!!)
LHA WONG SEGITU AJA SAYA KIRA DAH CUKUP, INSYAALLAH NASIB KITA AKAN BERUBAH…
DAN PASTI ADA OKNUM YANG AKAN KELABAKAN JIKA KITA BERHALUAN KERAS SEPERTI INI!!
SALAM SEJAWAT
rekan2 perawat, saya memahami kegalauan kalian. pepatah mengatakan : it’s all about the money. kalian merasa tidak dihargai karena semua tindakan medis yang kalian lakukan tidak mendapat tarif/ jasa medis. tenang saja. sebentar lagi dokter umum juga banyak yang ga laku di kota besar, karena semua pasien maunya langsung spesialis, selain itu rumah sakit juga menggaji dokter umum sangat rendah, kalau nanti dibuat seperti itu, saya dan rekan2 akan dengan senang hati mengerjakannya. bukan apa-apa, tapi untuk menyambung hidup.
mohon maaf kalau ada yang iri dengan penampilan kami, percayalah bahwa dengan menjadi dokter jaga di sebuah rumah sakit, tidak akan bisa membeli mobil atau rumah. mobil saya pribadi itu pemberian orang tua. saya tinggal di mertua.
mengenai praktek pribadi, saya juga belum buka, di area tempat tinggal saya tidak ada yang mau berobat ke dokter umum, kecuali pembantu. sedangkan untuk ke masyarakat menengah kebawah mereka juga tidak mau berobat ke dokter karena ke mantri lebih murah..
mengapa kalian getol sekali ingin praktek ? kalo memang terpanggil untuk melayani masyarakan miskin, silahkan kalian praktek di luar pulau yang terpencil.. jangan hanya di kota kan ?
saran untuk rekan2 PPNI : upayakan agar perawat yang memang ingin praktek, mendapat kesempatan untuk sekolah lagi menjadi dokter. seperti kami dokter umum, yang sulit sekali menjadi dokter spesialis..
semua pasti ingin maju… semoga kita bisa maju bersama. kalo gaji rendah ya apa mau dikata, lebih baik jadi agen asuransi kayaknya….
kaka sepupu saya seorg perawat n dy merasa walo gaji kecil n waktu kerja lama tp dy tetap mw melayani pasien.mang sih dy mang minat msk prwt makanya bnr2 rela berkorban walo dy menginginkan ada uu keperawatan.smoga uu keprwtn cpt dibuat oleh pemerintah.
Mmmmmm bingung….Q bru lu2s Akper..Tp q brhrap perawat Indonesia bsa mjdi lbh baek….N UU Keperawatan sgera dsyahkan…Pak SBY mhon ya dipertimbangkan….Q jga ank pacitan asli lho..he..he
BetuL.. kalau bukan perawat sendiri yang berperan .. siapa lagi..
mulai dari diri sendiri.. berikan semangat yang nyata dalam kepedulian profesi keperawatan..
Hmm.. satu hal yang pasti .. bekerja profesionaL.. dan niatkan bekerja untuk beramal.. itu akan lebih menenangkan hati saat isu-isu diatas terjadi disekitar kita…
woiiii.. teman sejawat, sabar, tawakal, ikhtiar, selagi masih mau usaha pasti ada jalan. So… tetep berjuang kawan, perjuangkan nasip kita nasip teman sejawat. tidak perlu mengeluh. tetapi perlu implementasi untuk itu semua. 1 ide, seluruh perawat indonesia mogo kerja 1 hari, Saya yakin apa yang kita cita2 kan, tuntutan perawat, RUU, pasti berhasil. GBU perawat…